Pembaca Muda Jenuh dengan Romantisasi Toksik: Survei Ungkap Mereka Justru Memburu Buku tentang Persahabatan dan Komunitas.

“Nggak Ada yang Bikin Pusing. Cuma Temen Nongkrong, Akhirnya Selamatkan Dunia.” Kok Bisa Laku?

Kamu yang sering scroll Wattpad atau Webnovel pasti pernah baca sinopsis kayak gini: “Dia dingin, dia kejam, tapi hanya untukku.” Atau, “Aku jadi mainannya tujuh pangeran ganteng.” Dulu laris. Sekarang? Banyak yang udah geleng-geleng. “Kok nggak ada hubungan yang normal sih?” “Kenapa harus diterima sih yang nyiksa?”

Rasanya ada perubahan selera yang besar. Dan ini terbukti. Sebuah survei informal di kalangan pembaca muda Indonesia, yang kumparin di media sosial, ngasih hasil yang menarik: 68% responden bilang mereka sengaja menghindari cerita yang meromantisasi hubungan toksik. Lalu mereka cari apa? Ternyata, buku tentang persahabatan dan komunitas. Ya, yang bikin hangat, bukan bikin deg-degan karena toxicity.

Ini nggak cuma tren bacaan biasa. Ini jawaban atas rasa lelah generasi yang hidup di tengah loneliness epidemic dan koneksi digital yang terasa palsu.

Mereka Jenuh dengan Drama Cinta, Butuh “Blueprint” Pertemanan yang Nyata

  1. Bangkitnya “Found Family” dan Komunitas dalam Fiksi Fantasi.
    Lihat popularitas buku-buku lokal atau terjemahan yang tokoh utamanya nggak punya pasangan romantis sampai ending. Ceritanya tentang sekelompok orang aneh—si penyendiri, si pecundang, si outcast—yang disatukan oleh tujuan. Mereka bikin ikatan kayak keluarga pilihan sendiri. “Found Family”. Contoh? Ada novel lokal tentang sekelompok anak kos beda jurusan yang bikin usaha katering bersama. Konfliknya bukan cinta segitiga, tapi ngadain acara besar, gagal, saling support, dan ketawa-ketawa. Pembaca bilang, “Ini ngingetin gue sama temen-temen kuliah.” Mereka lagi cari cerita yang rasanya kayak pelukan.
  2. “Slice of Life” tentang Grup WhatsApp dan Hobi Kecil.
    Genre yang naik daun: cerita sehari-hari yang sangat biasa. Misal, tentang grup arisan ibu-ibu komplek yang malah jadi tim penyelidik kejahatan ringan. Atau tentang klub merajut di kampus yang jadi tempat curhat. Konfliknya relatable: salah paham karena chat, ngumpulin iuran buat acara, ngurusin anggota yang mau pindah kota. Survei menyebut, 72% pembaca merasa genre ini memberi “rasa tenang” dan mengurangi kecemasan sosial. Mereka capek dengan hubungan cinta yang dipenuhi miscommunication yang dipaksakan. Mereka pengen lihat hubungan yang diperbaiki dengan ngobrol baik-baik.
  3. Karakter Utama yang “Aroace” (Aromantic & Asexual) dan Tetap Utuh.
    Ini yang paling menarik. Dulu, tokoh yang nggak mau pacaran atau nggak tertarik seks sering digambarkan menyedihkan, atau nanti “disembuhkan” oleh cinta. Sekarang? Banyak cerita di platform digital punya protagonis aroace yang bahagia dan punya tujuan hidup luar biasa—menyelamatkan kota, jadi ilmuwan top, bikin komunitas. Jalan ceritanya tentang pertemanan, pencarian jati diri, dan kontribusi ke masyarakat. Romansa? Bukan fokusnya. Ini semacam protes halus terhadap narasi bahwa “cinta romantis adalah puncak kebahagiaan”.

Tapi Nggak Semua Buku “Persahabatan” itu Sehat. Ada Jebakannya.

  • Persahabatan yang Justru Toxic dalam Penyamaran: Hati-hati sama cerita yang teman-temannya saling manipulative atau codependent berat, tapi dikemas sebagai “karena kita sahabat, jadi boleh saling mengontrol”. Itu sama beracunnya.
  • Terlalu “Pollyanna” dan Tidak Realistis: Cerita yang semua konflik selesai hanya dengan “kekuatan persahabatan” tanpa perjuangan dan air mata, juga bikin muak. Manusiawi punya konflik. Yang dicari adalah resolusi yang sehat, bukan ketiadaan masalah.
  • Mengabaikan Nuansa dan Tetap Menghakimi: Genre baru ini kadang bikin pembacanya jadi sok suci. “Aku cuma baca buku tentang persahabatan, nggak kayak kamu yang masih baca romance toksik.” Wah, itu malah bikin toxic culture baru.
  • Tergantung Mood dan Jadi Pelarian: Membaca sebagai pelarian itu wajar. Tapi kalau cuma mencari comfort zone dan nggak mau menghadapi kompleksitas hubungan romantis sama sekali di kehidupan nyata, ya itu juga nggak sehat.

Kalau Kamu Jenuh Juga, Coba Mulai dari Sini:

  1. Cari dengan Keyword yang Tepat: Di platform baca, coba cari tag “found family”, “platonic relationship”, “strong friendship”, atau “community building”. Jalan ceritanya sering lebih segar.
  2. Ikuti Penulis yang Fokus pada Dinamika Kelompok: Banyak penulis muda yang sekarang sadar dan sengaja membuat cerita dengan ensemble cast (banyak tokoh utama). Ikuti mereka, dukung karyanya.
  3. Jadikan sebagai Bahan Refleksi: Saat baca cerita persahabatan yang bagus, tanya diri sendiri: “Apa yang bikin hubungan pertemanan dalam cerita ini terasa kuat dan sehat? Bisa gue terapin nggak di circle gue?”
  4. Jangan Takut Bereksperimen Baca: Coba selingi bacaan romance-mu dengan satu atau dua judul fokus persahabatan. Rasakan bedanya. Mungkin kamu akan nemu ketenangan yang selama ini dicari.

Intinya, ini lebih dari sekadar tren bacaan. Pembaca muda jenuh dengan romantisasi toksik karena mereka hidup di dunia yang sudah penuh ketidakpastian dan drama. Mereka nggak butuh tambahan drama fiksi yang bikin pusing. Mereka butuh peta. “Blueprint” untuk membangun ikatan yang tahan lama, saling menguatkan, dan autentik di luar hubungan romantis.

Mereka mencari cerita yang mengajari cara berteman di era yang individualis. Dan itu adalah pencarian yang sangat masuk akal. Mungkin, dengan membaca tentang persahabatan yang utuh, mereka sedang belajar membangunnya di kehidupan nyata. Siapa tau?