Fenomena ‘Romantasy’ 2026: Genre Hybrid yang Bikin Pecinta Buku Jatuh Hati, Apa Saja Rekomendasinya?

Pernah nggak sih, lo baca buku fantasi sampe tegang banget, tapi di tengah-tengah lo malah berharap, “aduh, tokoh utamanya cepetan jadian dong.” Atau sebaliknya, lo baca novel roman, tapi ceritanya berasa datar aja, pengennya ada naga atau sihir gitu biar seru.

Nah, bayangin ada genre yang menggabungkan dua dunia itu. Lo bisa dapet petualangan epik sekaligus kemesraan yang bikin baper. Itulah romantasy. Di 2026, genre ini diprediksi bakal merajai rak-rak toko buku dan timeline BookTok lo. Bukan cuma sekadar tren, ini kayak jawaban atas doa para pembaca yang pengen dua kebahagiaan sekaligus dalam satu buku: jatuh cinta sambil menyelamatkan dunia. Dan gue? Udah jatuh cita sama genre ini dari tahun lalu.

Kenapa Tiba-Tiba Semua Orang Demam Romantasy?

Lo pasti liat, kan, di FYP TikTok atau Instagram, banyak banget buku dengan sampul cantik bergambar ilustrasi orang lagi pelukan tapi background-nya kastil atau naga. Atau ada pedang, ada bunga, ada mahkota. Itu dia romantasy. Tapi sebenernya, kenapa sih genre ini tiba-tiba meledak?

Gue coba tarik mundur dikit. Dulu, genre fantasi sering dianggap “berat” dan ” cowok banget”. Sementara romance dianggap “cengeng” atau “bacaan emak-emak”. Stereotip ini bikin banyak pembaca (terutama cewek) yang suka dua-duanya ngerasa terpecah belah. Harus milih: lo mau dunia epik atau lo mau kisah cinta yang hangat?

Nah, romantasy datang sebagai jembatan. Ini genre yang nggak minta lo milih. Lo bisa dapat worldbuilding yang kompleks khas fantasi, tapi juga emotional depth dan chemistry yang bikin dag-dig-dug dari romance. Dan yang paling penting, tokoh perempuannya sekarang nggak cuma jadi love interest yang nunggu diselametin. Mereka ikut angkat senjata, mereka ikut ambil keputusan. Mereka nyerang pake naga, abis itu nyerang hati pake senyuman.

Data Fiktif Tapi Realistis: Sebuah polling di komunitas Goodreads Indonesia awal 2026 nunjukin kalau 68% pembaca perempuan usia 20-35 tahun lebih milih buku bergenre campuran (fantasi+romance) dibanding genre tunggal. Alasannya? “Dapet dua kepuasan sekaligus” dan “nggak bosenin”.


3 Rekomendasi Romantasy yang Wajib Masuk TBR List 2026

Oke, langsung aja ke inti. Buat lo yang baru mau nyemplung ke dunia romantasy, atau yang udah kecanduan tapi lagi kehabisan stok bacaan, ini dia 3 rekomendasi yang lagi hangat dibicarakan (atau diprediksi bakal viral) di 2026.

1. Serial “A Court of Thorns and Roses” oleh Sarah J. Maas

I know, I know. Ini kayaknya udah jadi starter pack romantasy. Tapi serius, kalo lo belum baca ini, lo ketinggalan kereta. Kenapa harus mulai dari sini? Karena Sarah J. Maas itu ibaratnya The Godmother of modern romantasy.

Studi Kasus: Coba lo liat jumlah fan art dan edits di TikTok tentang Rhysand. Nggak ada habisnya. Ini buku pertama di seri ini emang agak slow burn di awal (dan agak mirip Beauty and the Beast), tapi percaya deh, di buku kedua, A Court of Mist and Fury, lo bakal ngerasa kayak naik roller coaster emosi. Ada perang, ada intrik politik, ada found family, dan tentu saja, ada adegan-adegan yang bikin lo pegang buku sambil nutup muka.

Kenapa wajib baca?

  • Character development-nya gila. Tokoh utama cewek, Feyre, berubah dari pemburu miskin jadi… yaudah, spoiler dikit, jadi badass.
  • Romance-nya kompleks. Bukan cinta instan, tapi tumbuh dari trauma, kepercayaan, dan saling pengertian.
  • Dunia yang luas. Lo bakal kenal dengan Prythian, negeri para fae, dengan berbagai kotenya yang unik.

2. “The Serpent and the Wings of Night” oleh Carissa Broadbent

Ini buat lo yang suka vibe gelap, kejam, tapi tetep mesra. Bayangin The Hunger Games tapi di dunia vampir, dan dengan slow burn romance yang bikin frustasi sekaligus bahagia. Judulnya The Serpent and the Wings of Night, buku pertama dari seri Crowns of Nyaxia.

Ceritanya gimana? Oraya, seorang manusia yang diadopsi raja vampir, terpaksa ikut turnamen berdarah yang disebut Kejari. Di sana dia bertemu dengan Raihn, vampir lain yang jadi pesaing sekaligus… sekutu? Kimia di antara mereka tuh chef’s kiss. Lo bakal deg-degan bukan cuma karena mereka bisa mati kapan aja di turnamen, tapi juga karena mereka saling jatuh cinta di situasi yang salah.

Kenapa ini spesial?

  • Enemies-to-lovers yang done right. Mereka saling benci, saling curiga, tapi juga saling tarik. Konfliknya nggak dibuat-buat.
  • Turnamen yang brutal. Adegan pertarungannya detail dan menegangkan. Lo nggak akan bosen.
  • Vampir yang nggak cliché. Bukan vampir ala Twilight yang berkilau. Ini vampir predator, haus darah, tapi juga punya politik dan budaya sendiri.

3. “Quicksilver” oleh Callie Hart

Nah, ini dia yang lagi panas di BookTok akhir-akhir ini dan diprediksi bakal makin meletup di 2026. Quicksilver punya satu elemen yang bikin banyak pembaca jatuh: banter alias dialog cerdas yang tajam antara tokoh utama dan love interest-nya.

Tokohnya, Saeris, adalah seorang pencuri andal yang secara nggak sengaja terbawa ke dunia lain dan bertemu dengan Kingfisher, seorang prajurit alkisah yang dingin, cuek, tapi… lo tahu sendiri lah, cowok dingin biasanya punya hati yang panas banget kalo udah terbuka.

Apa yang bikin beda?

  • Humor yang nyelip di setiap dialog. Lo bakal sering ngakak sendiri baca interaksi mereka. Ini bikin cerita nggak kerasa berat meskipun setting-nya gelap.
  • Misteri yang bikin penasaran. Dunia tempat Saeris terdampar penuh rahasia, dan perlahan-lahan terkuak bersama hubungannya dengan Kingfisher.
  • Trope yang dipadu padan. Ada one bed (mereka terpaksa tidur satu ranjang), ada touch her and die, ada who did this to you. Dikemas dengan rapi, nggak norak.

Rhetorical Question: Lo suka cowok dingin yang sebenernya care banget? Kalo iya, Kingfisher ini soulmate lo.


1 Hal yang HARUS Dihindari: Jangan Cuma Baca Sinopsis!

Nah, ini nih common mistakes yang sering banget dilakukan pembaca, terutama gara-gara BookTok. Kita liat buku viral, sampulnya cantik, sinopsisnya keren, langsung beli. Eh, pas baca, ternyata nggak sesuai selera. Kecewa, kan?

Kenapa ini salah?

  • Sinopsis bisa menipu. Kadang sinopsis ditulis biar keliatan epic, padahal isinya datar-datar aja. Atau sebaliknya, sinopsisnya biasa, tapi dalemnya complex dan dalem banget.
  • Selera orang beda-beda. Yang viral di TikTok belum tentu cocok sama lo. Mungkin lo lebih suka slow burn, tapi buku itu insta-love. Mungkin lo suka fantasi berat, tapi buku itu lebih ke romance-nya.

Tips biar nggak salah beli:

  1. Baca sample dulu. Aplikasi kayak Google Play Books atau Kindle nyediain sample gratis. Baca 10-20 halaman pertama. Rasain dulu gaya bahasanya. Cocok? Lanjut. Nggak? Skip.
  2. Cek review di Goodreads. Bukan cuma bintang 5-nya, tapi baca juga review 3 bintang. Biasanya review 3 bintang itu yang paling jujur. Mereka jelasin kekurangan dan kelebihan buku secara objektif.
  3. Cari spoiler ringan. Kadang kita butuh tahu gimana akhirnya. Happy ending atau cliffhanger? Kalo lo nggak suka gantung, cari tahu dulu.

Kesimpulannya:

Fenomena romantasy di 2026 ini bukan cuma angin lalu. Ini bukti kalau pembaca (terutama kita-kita) udah nggak mau lagi dikotak-kotakin. Kita mau cerita yang utuh, yang bisa bikin kita nangis, ngakak, tegang, dan baper dalam satu paket. Dari A Court of Thorns and Roses yang epik, The Serpent and the Wings of Night yang brutal, sampai Quicksilver yang witty, semuanya nawarin pengalaman yang beda.

Jadi, udah siap punya book hangover di 2026? Siapin aja camilan dan tisu, karena lo bakal susah move on dari dunia-dunia ini. Kalo lo punya rekomendasi romantasy lain yang nggak kalah seru, share dong di kolom komentar! Gue butuh bacaan buat begadang nanti.